Umat Yang Terkotak Kotak
Oleh Burhan Sodiq
Haru biru kancah politik Islam menjadi semakin meriah. Terorisme, panggung politik senayan, MUI, pelecehan agama dan bahkan issue pemurtadan menjadi bahan berita yang sarat perhatian khalayak. Tapi peta pun mudah sekali dibaca. Semua mengarah pada sebuah kenyataan bahwa umat ini sudah terbelah.Kelompok umat Islam yang peduli dengan syariat dan berjuang dengan caranya, terpaksa harus mengalami pil pahit berupa permusuhan dari aparat keamanan. Mereka diburu, dipenjara dan bahkan dibunuh secar sadis di depan kamera pewarta berita. Ujian berat ini harus dijalani sendiri, karena dukungan dari umat sangatlah sepi. Tak ada perlawanan di luar jeruji besi, karena gerakan yang ada terkesan sendiri-sendiri terpisah antara satu dengan yang lain.
Sementara kelompok Islam yang memilih jalur partai sibuk dengan targetnya mengegolkan kadernya di Senayan. Berdialektika dengan berbagai kelompok ideologis yang berbeda. Bersungut-sungut mengadu ide untuk kejayaan Islam. Tetapi banyak orang meragukan niatnya itu karena kenyataan selalu berkata lain. Aktivis itu asyik berpolemik, berwacana, dan berpolitik, atas nama strategi dan kamuflase yang membingungkan.
Di sudut yang berbeda tersisa umat Islam yang menguliti saudaranya sendiri atas nama dakwah dan nasihat. Tak peduli betapa besar kontribusinya, atas nama kesalahan manhaj, kehormatan saudaranya dihabisi di ruang ruang terbuka. Tanpa ada bayan, konfirmasi atau tabayun kepada yang bersangkutan. Kasar dan seringkali menyisakan luka yang mendalam.
Gerak umat ini tidak bisa seragam. Masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Generasi mudanya jauh tertinggal, karena tidak tersentuh oleh dakwah yang diidamkan. Mereka larut oleh music, film, dan aneka hiburan yang melenakan. Masjid-masjid sepi, surau-surau pun tak ada yang menghampiri. Aktivis-aktivisnya terlena oleh virus cinta yang memabukkan. Sementara pekerjaan besar keumatan terbengkalai karena perselisihan yang tak kunjung padam.
Kita memohon kepada Allah atas pertolongan dan hidayahNya. Agar umat yang besar ini mampu bergerak di ritme yang sama. Seirama dan sesuai dengan apa yang kita impikan. Saling mengisi kekurangan dan saling membantu meringankan beban. Sungguh ini adalah jalan yang tidak mudah, tetapi bukan mustahil pula untuk dilakukan.
1. Kesamaan Keprihatinan
Harus ada kesamaan keprihatinan dalam memotret kondisi umat ini. Menyadarkan posisi kita di tengah kancah politik global. Bahwa umat islam Indonesia masih jauh dari yang kita harapkan. Baik dari sisi keumatan, sosial, politik dan ekonominya. Dari keprihatinan ini diharapkan ada upaya bersama untuk menggerakkan potensi yang dimiliki. Agar perjalanannya menjadi lebih kompak dan seragam.
2. Perlu Pembicaraan Antar Elit
Kalau seandainya di tataran elit pergerakan hari ini sangat susah dipertemukan, maka kita berharap pada generasi penggantinya ke depan. Mungkin mereka yang senior selalu bersikap egois. Susah diajak kerjasama dan maunya menang sendiri. Maka untuk generasi penggantinya, diharapkan mereka lebih mau membuka diri. Mau bekerjasama dan tidak bersikap egois. Memetakan perjuangan umat islam ke depan. Jadi tidak ada lagi pengkotakan, tetapi yang ada adalah penyelarasan gerak. Siapa melakukan apa, agar tidak ada tenaga yang mubazir.
Dua langkah ini akan berdampak besar bagi gerakan islam di Indonesia. Sehingga mereka bisa focus pada penyelamatan bangsa. Menjayakan islam di nusantara. Menjadi pemegang amanah tertinggi dan mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara dengan syariah Islam. Semoga segera terwujud sebuah cita cita yang agung itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar