Natal adalah perayaan kelahiran seorang
Tuhan yang bernama Yesus yang dipercaya oleh orang-orang Kristen turun
kedunia untuk menebus dosa-dosa mereka. Orang-orang kristen mempercayai
bahwa ada Tuhan yang mempunyai awal melalui proses kelahiran, dan bahkan
mempunyai proses akhir yaitu melalui kematian dikayu salib. Tuhan yang
mempunyai awal dan atau akhir tentu saja tidak bisa disebut sebagai
Tuhan melainkan berhala.
Islam sebagai monotheism yang
jelas-jelas mengajarkan kepada penyembahan Tuhan yang benar yaitu Tuhan
yang tidak mempunyai awal dan akhir tentu saja tidak akan mengakui dan
mempercayai adanya Tuhan yang mempunyai awal dan akhir. Nah bila ada
orang yang mengucapkan “selamat” kepada sesuatu yang tidak dia percayai,
maka apakah itu bisa dikatakan sebagai sebuah toleransi?? Atau
sebenarnya itu bisa dikatakan sebagai sebuah ejekan?? Mari kita ambil
analogi, bila ada seorang ibu mandul yang benar-benar sudah tidak bisa
mempunyai anak, lalu karena keinginannya yang begitu besar membuatnya
menjadi gila sehingga dia akhirnya menganggap boneka yang dia milikinya
sebagai anak. Boneka tersebut diperlakukan layaknya seorang anak
manusia, seperti dimandikan, diberi makan dan bahkan membuat sendiri
tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran boneka yang dianggapnya
sebagai anak dari rahimnya. Sang ibu benar-benar menganggap boneka
tersebut sebagai seorang anak dan marah bila ada orang lain yang tidak
percaya dan menganggap anaknya adalah boneka. Ketika sang ibu sedang
merayakan kelahiran sang boneka dan melakukan “open house” bagi siapa
saja yang ingin mengucapkan “selamat ulang-tahun” kepada bonekanya, maka
sebagai orang yang waras tentu saja kita tidak akan ikut-ikutan
merayakan acara ulang tahun tersebut dan bahkan mengucapkan selamat
ulang tahun kepada boneka tersebut, karena kalau kita melakukan itu maka
sebenarnya yang kita lakukan hanyalah sebagai bentuk rasa “kasihan”
atau bisa dikatakan bentuk “ejekan” atas kegilaan ibu tersebut. Sebagai
orang yang bertoleransi, maka kita tidak perlu ikut-ikutan dalam
“kegilaan” yang dilakukan oleh ibu tersebut. Kita cukup membiarkan apa
yang dilakukan sang ibu, atau bahkan sebagai manusia yang baik maka kita
harus menyadarkan sang ibu bahwa yang disangkanya anak adalah sebuah
boneka yang tidak pernah dilahirkan oleh rahimnya.
Nah bila ada seseorang yang tidak
mempercayai bahwa ada Tuhan yang dilahirkan, namun tiba-tiba dia
mengucapkan “selamat hari kelahiran Tuhan” kepada orang- yang percaya
bahwa ada Tuhan yang bisa dilahirkan, maka bisa dikatakan orang tersebut
sedang mengejek kepercayaan orang yang sedang merayakan hari kelahiran
Tuhannya. Islam sebagai agama yang mengajarkan pada akhlak yang mulia
dengan tegas melarang umatnya untuk mengejek kepercayaan orang lain
dengan melarang umatnya untuk mengucapkan sesuatu yang tidak dipercayai
oleh ajaran Islam. Islam dengan tegas mengatakan “Bagimu agamamu dan
bagiku agamaku” dengan membiarkan orang-orang kristen untuk merayakan
hari kelahiran Tuhannya tanpa harus mengejek dengan mengucapkan “Selamat
Natal”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar