kebersamaan

kebersamaan

Minggu, 07 Agustus 2011

Pilih Jomblo ataukah Pacaran? (jangan pacaran sebelum menikah)


JOMBLO. Satu kosakata yang sangat ditakuti oleh banyak orang saat ini terutama remaja. Why? Karena kosakata ini mengandung makna negatif yang bikin alergi. Suatu pertanda tidak lakunya seseorang untuk mendapatkan teman kencan dari lawan jenis. Idih…nggak laku? Emangnya jualan kolor?

Tapi asli kok, banyak banget remaja apalagi kalangan cewek yang merasa seperti kena kutukan kalo sampe predikat jomblo mereka sandang. Akhirnya dengan berbagai macam cara mereka berusaha untuk melepaskan kutukan ini meskipun dengan berbagai cara. Sudah nonton film 30 Hari Mencari Cinta? Di film itu kan menceritakan tiga orang remaja cewek yang sama-sama berada pada kondisi jomblo. Mereka membuat kesepakatan untuk mencari pacar dalam waktu 30 hari. Bagi yang menang, maka ia akan menjadi raja dan diperlakukan bak putri karena semua pekerjaan rumah akan dikerjakan oleh yang kalah.

Singkat cerita, mereka bertiga benar-benar fokus untuk mendapatkan pacar dalam rentang waktu itu. Karena ngebetnya, sampai-sampai harga diri pun sempat akan tergadaikan ketika sang pacar menginginkan making love alias berhubungan seksual layaknya suami-istri. Belum lagi ngebetnya salah satu tokoh di sana pingin merasakan nikmatnya ciuman bibir sampai melatih diri dengan guling. Naudzubillah.

Belum lagi resiko bubarnya persahabatan yang mereka bina selama ini hanya karena cemburu dan khawatir pacarnya diembat sahabat sendiri. Meskipun ending-nya semua pacar-pacar karbitan itu pada bubar, tapi kita bisa melihat seberapa parah kondisi remaja kita saat ini terutama dalam pergaulannya.

…predikat jomblo begitu menakutkan buat remaja yang miskin iman. Mereka lebih memilih jalan maksiat dengan pacaran daripada menyandang status ini…

So, ternyata predikat jomblo begitu menakutkan buat sebagian remaja yang miskin iman. Mereka lebih memilih jalan maksiat dengan pacaran daripada menyandang status ini. Meskipun seringkali dalam pacaran mereka juga merasa terpaksa. Bisa karena dipaksa teman, bisa karena dipaksa ortu, bisa juga dipaksa diri sendiri karena konsep diri yang salah. Jadi emang bisa banyak alasan.

Dipaksa teman terjadi bila teman satu genk pada punya cowok semua. Trus ada satu yang nganggur. Jadilah ada pemaksaan beramai-ramai supaya yang satu ini segera dapat gebetan. Udah deh, siapa aja boleh asal berstatus cowok. Waduh, gawat juga kan. Bisa-bisa sapi dipakein celana bisa diembat juga tuh saking nafsunya (hehehe…)

Ortu bisa jadi mengambil peranan dalam ajang kemaksiatan ini. Ada loh beberapa tipe ortu yang kelimpungan ketika anak gadisnya belum punya pacar. Padahal anaknya sendiri udah nyadar bahwa ini adalah ajang berlumur dosa. Eh, ortunya ngotot agar sih anak nyari pacar. Tulalit banget kan?

Atau bisa juga konsep diri remaja yang salah. Ia merasa merana tanpa punya pacar. Ia merasa jelek dan nggak laku ketika belum pernah merasakan rasanya pacaran. Ia akan jauh lebih bahagia bila ada cowok di sampingnya. Nah, ini adalah konsep yang salah dan menyesatkan.

…konsep diri remaja yang salah, merasa merana tanpa punya pacar. Ia merasa jelek dan nggak laku ketika belum pernah merasakan rasanya pacaran…

Belum lagi dorongan media baik TV, radio ataupun majalah yang menawarkan gaya hidup bebas dengan label pacaran yang semakin gencar dilakukan. Udah deh, itu semua adalah banyak faktor yang bikin remaja ngebet untuk bisa pacaran. Padahal, apa sih yang didapat oleh pacaran, adalah perbuatan yang bisa kamu putuskan dengan sadar. Jadi, tulisan kali ini akan membantu kamu untuk membuat keputusan benar dalam hidup. Jangan sampai kamu melakukan perbuatan yang salah dan membuatmu menyesal kemudian. Lanjut!

Kenapa harus pacaran?

Hayo…bisa nggak kamu jawab pertanyaan ini? Kenapa harus pacaran? Hmm…mungkin di antara kamu ada yang menjawab:
‘biar nggak kuper’
‘biar nggak dibilang nggak laku’
‘biar ada cowok yang sayang sama kita’
‘biar ada semangat untuk belajar’
‘biar nggak malu dengan teman-teman yang pada punya pacar juga’
‘sekedar pingin tahu rasanya’
dll, masih banyak lagi alasan yang bisa kamu ajukan sebagai pembenaran. Oke deh, kita coba telaah satu per satu yah, masuk akal nggak sih alasan-alasan yang kamu punya itu.

Pacaran, adalah aktivitas yang dilakukan berdua dengan sang kekasih sebelum menikah. Aktivitas atau kegiatan ini bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa nonton bareng, makan bakso berdua, jalan berdua atau belajar bersama. Tapi alasan terakhir ini kayaknya banyak nggak jadi belajarnya deh karena pada sibuk mantengin gebetan masing-masing. Iya apa iya?

…Kalo kamu sekedar takut dibilang kuper karena nggak mau pacaran, maka mereka para aktivis pacaran itulah yang sebenarnya orang paling kuper dan kupeng sedunia…

Kalo kamu sekedar takut dibilang kuper karena nggak mau pacaran, maka mereka para aktivis pacaran itulah yang sebenarnya orang paling kuper dan kupeng sedunia. Why? Karena saya yakin orang pacaran itu dunianya akan berkutat dari pengetahuan tentang doi aja. Coba kamu tanya apa dia tahu perkembangan teknologi terkini? Apa dia tahu di Palestina itu ada masalah apaan sih? Apa dia juga tahu kalo Amerika itu ternyata adalah teroris sejati?

Yakin deh, pasti mereka yang suka pacaran itu nggak bakalan tahu topik beginian. Kalo begitu, mereka itulah yang kuper dan kupeng. Paling tahunya cuma apa hobi sang pacar, apa wakna favoritnya, apa makanan kesukaannya, dll. Coba Tanya berapa nilai ulangan matematikanya, fasih nggak bahasa Inggris-nya, bagus nggak karangan bahasa Indonesia-nya, dan hal-hal seputar itu, pasti deh aktivis pacaran pada bloon untuk hal beginian. Kalo pun ada yang pintar, itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan pacaran sebagai semangat belajar.

Sebaliknya, pacaran adalah ajang maksiat. Bukankah sudah dikatakan oleh Rasulullah SAW:

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan” (HR Ahmad)

Waduh, emang kamu mau jadi temannya setan? Hiii, naudzubillah banget tuh.

Jangan beralasan kamu kuat iman, maka tetep aja ngeyel berdua-duaan. Banyak tuh kasus ngakunya aktivis rohis dan niatnya dakwah eh..malah kebablasan pacaran. Teman SMA saya dulu aja ada yang MBA alias Married By Accident alias lagi hamil di luar nikah karena pacaran. Udah sekolahnya nggak bisa lanjut karena perutnya semakin gendut, ia adalah pihak yang dirugikan.

…Jangan beralasan kamu kuat iman, maka tetep aja ngeyel berdua-duaan. Banyak tuh kasus ngakunya aktivis rohis dan niatnya dakwah eh..malah kebablasan pacaran…

Tuh, si laki-laki yang menghamili bisa dengan enaknya melanjutkan sekolah sampe tuntas. Belum lagi beban dosa besar yang harus ia tanggung. Ingat, berzina adalah salah satu dosa besar yang hanya bisa ditebus dengan taubatan nasuha. Taubat yang sungguh-sungguh dan tak akan pernah mengulangi lagi. Bukan taubat jenis tomat, saat ini tobat, besok kumat. Duh, itu sih namanya main-main alias nggak serius dan mau berubah total. Nggak baik, Non!

Jomblo adalah pilihan

Kok bisa? Di saat teman-teman pada risih dengan status jomblo, masa’ sih malah bisa dijadikan status pilihan? Bisa aja, why not gitu loh? Lagian tergantung persepsi kan?

Kondisi jomblo adalah kondisi yang independen, mandiri. Di saat teman-teman cewek lain serasa nggak bisa hidup tanpa gebetan, kamu merasa sebaliknya. Nggak harus jadi cewek tuh aleman, manja, tergantung ke cowok, dan merasa lemah. Huh…jijay bajay banget. Jadi cewek kudu punya pendirian, nggak asal ikut-ikutan. Meskipun teman satu sekolah memilih pacaran sebagai jalan hidup, kamu tetap keukeuh dengan prinsip: “jomblo tapi sholihah”. Huhuy!

Dulu, waktu saya masih duduk manis di bangku SMP dan SMA, ada seorang teman yang ngebet banget pingin punya pacar. Sampe-sampe kalo ada kuis di majalah remaja tentang siap-enggaknya pacaran, doi termasuk yang rajin mengisi untuk tahu jawabannya. Ternyata doi tipe yang sudah siap banget. Akhirnya fokus perhatian dia hanya ke cita-cita pingin punya pacar dan pacar mulu. Prestasi sekolah jadi anjlok. Padahal ternyata nggak ada yang mau sama doi (backsound: Kacian banget!).

Nah, beda kasus dengan muslimah sholihah. Ada atau nggak ada yang mau, dia nggak bakal ambil pusing. Mikirin rumus fisika aja sudah cukup pusing, pake mikir hal lain. Maksudnya, mikirin pacar atau pacaran adalah sesuatu yang nggak penting bagi dirinya. Selain ngabisin waktu dan energi, yang pasti menguras konsentrasi dan emosi.

…Kalo kamu jadi cewek sudah oke, baik di otaknya, kepribadiannya apalagi akhlaknya, jadi jomblo bukan sesuatu yang terpaksa tuh. Malah jomblo adalah sebuah kebanggaan….

Kalo kamu jadi cewek sudah oke, baik di otaknya, kepribadiannya apalagi akhlaknya, jadi jomblo bukan sesuatu yang terpaksa tuh. Malah jomblo adalah sebuah kebanggaan. Kamu bisa tunjukkan kalo jomblo adalah harga diri. Menjadi jomblo bukan karena nggak ada yang mau, tapi kitanya yang emang nggak mau kok sama cowok-cowok anak kecil itu. Lho, kok?

Iya, cowok kalo beraninya cuma pacaran itu namanya masih cowok kecil. Masa’ masih kecil udah pacaran. Huh! Kalo cowok yang udah dewasa, pasti ia nggak berani pacaran, tapi langsung datang ke ortu si cewek dan ngelamar. Merit deh jadinya. Selain menunjukkan tanggung jawab, cowok dewasa tahu kalo pacaran cuma ajang tipu-tipu dan aktivitas berlumur dosa. Hayo…pada berani nggak cowok-cowok kecil itu?

Jomblo Tapi Shalihah

Jangan pernah takut diolok teman sebagai jomblo. Jangan pernah malu disebut nggak laku. Toh, mereka yang berpacaran saat ini belum tentu juga jadi nikah nantinya. Tul nggak? Malah yang banyak adalah putus di tengah jalan, patah hati terus bunuh diri. Hiii, naudzubillah. Atau bisa jadi karena takut dibilang jomblo malah dapat predikat MBA tanpa harus kuliah alias Married By Accident.

Lagipula, cewek kalo mau dipacarin kesannya adalah cewek gampangan. Gampang aja dibohongin, gampang diboncengin, gampang dijamah, dan gampang-gampang yang lain. Idih…nggak asyik banget! Toh, nantinya para cowok itu juga bakal males sama cewek beginian karena udah tahu ‘dalemannya’, mereka pinginnya dapat cewek baik-baik.

Terlepas apa motivasi mereka, yang pasti kamu kudu punya patokan atau standar tersendiri. Kamu nggak mau pacaran karena itu dosa. Kamu memilih jomblo karena itu berpahala dan jauh dari maksiat. Kamu nggak bakal ikut-ikutan pacaran karena takut dibilang jomblo dan nggak gaul. Kamu tetap keukeuh pada pendirian karena muslimah itu orang yang punya prinsip. Itu artinya, kamu selalu punya harga diri atas prinsip yang kamu pegang teguh. Iya nggak seh?

Karena banyak juga mereka yang meskipun sudah menutup aurat dengan kerudung gaul, masih enggan disebut jomblo. Jadilah mereka terlibat affair bernama pacaran sekadar untuk gaya-gayaan. Bener-benar nggak ada bedanya dengan mereka yang nggak pake kerudung. Malah parahnya, masyarakat akan antipati sama muslimah tipe ini. Berkerudung tapi pacaran. Berkerudung tapi masih suka boncengan sama cowok non mahrom. Berkerudung tapi sering berduaan sama cowok dan runtang-runtung nggak jelas juntrungannya. Padahal, kelakuannya yang model begitu itu bisa membuat jelek citra kerudung, imej Islam jadi rusak, dan tentunya doi bikin peluang orang lain untuk menilai dan memukul rata bahwa doi mewakili muslimah. Parah banget!

…predikat jomblo jauh lebih mulia kalo kamu menghindari pacaran karena takut dosa. Menjadi jomblo jauh lebih bermartabat kalo itu diniatkan menjauhi maksiat…

Intinya, predikat jomblo jauh lebih mulia kalo kamu menghindari pacaran karena takut dosa. Menjadi jomblo jauh lebih bermartabat kalo itu diniatkan menjauhi maksiat. Menjadi jomblo sama dengan sholihah kalo itu diniatkan karena Allah semata. Bukankah hidup ini cuma sementara saja? Jadi rugi banget kalo hidup sekali dan itu nggak dibikin berarti. Jadi kalo ada yang rese dengan kamu karena status jomblomu, katakan saja ‘jomblo tapi sholihah, so what gitu loh!’. Hidup jomblo!

Perbedaan Pacaran dengan Ta’aruf


Kalian mungkin bertanya-tanya, bukankah pacaran adalah ajang mengenal satu sama lain? Bagaimana bisa menikah kalau tidak pacaran dulu? Aku bilang bisa dengan cara Islam. Islam mengajarkan kepada calon suami istri untuk saling mengenal terlebih dahulu yang disebut ta’aruf. Tentu saja ta’aruf lebih sopan dan lebih terarah karena calon suami istri dikenalkan oleh keluarga masing-masing. Secara logika saja, kalau pacaran kan, fulanah selalu mencoba untuk menutup kejelekan dirinya dari si fulan dan memperlihatkan sisi baiknya saja, begitu juga si fulan kepada si fulanah. Kalau ta’aruf, mulai dari kebaikan sampai kejelekan setiap pasangan pasti disebut oleh keluarga, jadi setelah menikah tidak ada penyesalan apapun.
Aku juga berani bilang, kalau pernikahan yang dimulai dari ta’aruf lebih bertahan lama daripada yang dimulai dengan pacaran. Kenapa? Berikut perbedaan pacaran dengan ta’aruf.
1. Seperti yang aku tulis barusan, dari ta’aruf kita bisa menerima kekurangan diri pasangan kita mengingat diri kita yang juga punya banyak kekurangan. Tidak seperti pacaran dimana setiap pasangan berusaha untuk menutup-nutupi kekurangan dirinya dan tampil sebaik mungkin di depan kekasihnya.
2. Kalau pacaran berarti manis-manisnya sudah dihabiskan di awal, setelah menikah tinggal sepahnya doang. Kalau ta’aruf, manis-manisnya tentu saja dinikmati setelah menjadi halal. Kitapun merasa disayang oleh Allah SWT karena tidak ada keresahan sedikitpun.
3. Orang yang berta’aruf biasanya terbimbing dan ter-tarbiyah. Senantiasa menegakkan syariat Allah dan al-Millah. Mereka biasanya adalah orang-orang yang tahu hukum agama kalau bercerai adalah hal yang sangat Allah benci. Berbeda dengan masyarakat awam kebanyakan yang menyelesaikan masalah dengan bercerai. Contohnya gosip perceraian artis yang menjamur di infotainment. Mereka pasti memulai pernikahan dengan pacaran, kan?
Orang yang memulai pernikahan dengan berpacaran biasanya (aku tidak bilang seluruhnya)adalah orang yang tidak mengenal hukum agama. Mereka biasa pergi berduaan, ikhtilat, berpegangan tangan, berpelukan, dan berciuman. Tidak ada jaminan si cewek tidak akan hamil di luar nikah lalu aborsi karena cowoknya tidak mau bertanggung jawab.

Senin, 01 Agustus 2011

Kartun kartun yang dianggap menyesatkan : Doraemon, Dragonball, Shincan, Avatar,,dll.



Doraemon , dalam kartun ini, ia digambarkan sebagai tempat untuk dimintai segala sesuatu yang gaib oleh temannya. Lihatlah bagaimana film kartun tersebut menyimpang dari akidah. Segala sesuatu telah ditetapkan waktu dan ajalnya oleh Allah Ta'ala. Makhluk tidak mampu mengatur waktu, baik itu memajukan atau mengundurkan. Makhluk tidak mampu menyeberang dari zaman kekinian menuju zaman lampau atau sebaliknya.

Dragon Ball,
Cerita dalam film ini banyak mengandung unsur kebatilan, seperti adanya penyembahan dewa-dewa sepesti Dewa Emperor, Dewa Bumi, Dewa Gunung, Dewa Naga, dll. Padahal, Allah hanyalah meridhai Islam sebagai agama yang benar, sebagaimana firman Allah Swt. Berikut ini, "Sesungguhnya, agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam." (QS. Ali 'imran[3]: 19.

Shincan (simbol anak durhaka)
Shincan adalah anak yang sering berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya. Dia suka berbohong, mengeluarkan kata-kata yang kurang ajar kepada kedua orang tuanya, dan suka membuat orang tuanya marah dan jengkel.
Jadi adalah dosa besar jika seseorang mencela, membentak, atau merendahkan orang tuanya. Semua ini adalah bentuk durhaka yang terlarang didalam agama kita yang memiliki peraturan yang sangat sempurna.

Kartun Naruto, Dragon Ball, atau avatar.
Unsur kekerasan disini diartikan sebagai setiap tampilan, baik verbal (dg kata2), maupun visual(dg gmbar), yang merujuk pda tingkah laku yang bertujuan untuk melukai, mencelakakan, membunuh orang lain atau objek lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tsb.

Apa alasannya Kok Merokok Batalin Puasa?




Buat sebagian dari kita, berpuasa tanpa makan minum nggak ada masalah. Tetapi berpuasa tanpa boleh merokok bagaikan tersiksa. Merokok terasa menjadi sebuah kebutuhan hidup lain yang sama atau lebih penting dari kebutuhan yang sebenarnya. Lalu bagaimanakah hukum merokok di bulan Ramadhan? Apakah membatalkan puasa? Bukankah yang diisap hanya berupa asap?

Memang, seperti yang kita ketahui pada dasarnya yang membatalkan puasa adalah hanya 3 hal, yaitu: bersetubuh, makan dan minum [lihat al-Baqarah 187].

Dan makanan dan minuman yang membatalkan puasa terbagi pada dua kategori:

1. Sesuatu yang mengenyangkan dan/atau menghilangkan dahaga secara HAKIKI kepada orang yang mengkonsumsinya, sekali pun dalam jumlah yang sedikit.

Maksudnya adalah:
Apa saja makanan yang diambil secara sengaja dan sampai ke perut, maka ia membatalkan puasa. Apa saja minuman yang diambil secara sengaja dan melalui tenggorokan, maka ia membatalkan puasa. Apa saja zat makanan yang dimasukkan ke dalam darah melalui suntikan, umpama glukosa yang diberikan kepada pesakit yang tidak dapat makan dan minum seperti biasa, ia juga membatalkan puasa.

Sehingga, memasukkan pen ke dalam mulut, menggosok gigi, berkumur-kumur, membersihkan telinga, mengorek hidung, menggunakan obat tetes mata, ini semua tidak membatalkan puasa. Merasakan makanan yang sedang dimasak juga tidak membatalkan puasa asalkan makanan tersebut dikeluarkan lagi. Sisa makanan yang ada atau terselit di celah-celah gigi pun tidak membatalkan puasa asalkan ia tidak ditelan secara sengaja. Menelan air liur, sengaja atau tidak sengaja, juga tidak membatalkan puasa. Air liur tidak pernah dianggap di sisi manusia yang normal sebagai minuman. Seandainya air liur adalah sejenis minuman, niscaya tidak ada manusia yang mati kehausan jika terdampar di padang pasir.

Demikian juga, mengambil suntikan insulin bagi pesakit kencing manis dan menggunakan alat melegakan pernafasan bagi pesakit asma, itu tidaklah membatalkan puasa.


2. Sesuatu yang mengenyangkan dan/atau menghilangkan dahaga secara PSIKOLOGI sekali pun dalam jumlah yang sedikit. Ia bukanlah makanan dan minuman tetapi mengkonsumsinya memberi kesan psikologi berupa kepuasan atau kenikmatan yang mengenyangkan dan/atau menghilangkan dahaga bagi nafsu.

Nah, pada point inilah merokok itu membatalkan puasa. Benar bahwa asap rokok bukanlah makanan atau minuman. Tetapi bagi penghisap rokok, ia adalah suatu nikmat umpama makanan yang memuaskan mereka. Maka menghisap rokok membatalkan puasa. Akan tetapi bagi orang di sekitarnya yang terhisap asap rokok tersebut (secondary smoker), ia tidak membatalkan puasa karena asap rokok tersebut bukanlah satu nikmat bagi diri mereka.

Menghirup atau terhirup asap kendaraan lalu lintas yang sesak tidak dianggap membatalkan puasa. Ini karena asap kendaraan bagi manusia yang normal --tanpa dibedakan dia penghisap rokok atau tidak-- bukanlah suatu nikmat yang memuaskan.

Demikian juga dengan contoh selain merokok, yaitu menghisap ganja, narkotika atau menyuntik bagian tubuh dengan narkotik. Narkotika memang bukan makanan atau minuman, tetapi bagi pecandu/penagih narkotik, ini adalah sebuah nikmat seumpama makanan yang dapat memuaskan mereka. Karena itu menghisap atau menjadi pecandu narkotik adalah membatalkan puasa.

DALIL:
Dalil dari point ke-2 ini adalah sebuah hadith yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anh, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa Allah Ta'ala berfirman (Hadith Qudsi):

"Setiap amal anak Adam adalah bagi dirinya, kecuali puasa. Maka itu adalah untuk Aku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Dia (anak Adam) meninggalkan makanan karena Aku dan meninggalkan minuman kerana Aku dan 'meninggalkan kenikmatan' kerana Aku dan meninggalkan isterinya (tidak bersetubuh) kerana Aku.
[Ref: Dikeluarkan oleh Ibn Khuzaimah di dalam Shahihnya – hadith no: 1897 dan sanadnya dinilai sahih oleh Muhammad Mustafa al-'Azami]

Yang dimaksud dengan 'meninggalkan kenikmatan' bukanlah semua bentuk nikmat seperti tidur, mandi dan sebagainya. Akan tetapi itu adalah nikmat yang pada diri seseorang seumpama makan dan minum.

Karena merokok adalah merupakan sebuah kenikmatan psikologi bagi penghisapnya, maka merokok itu membatalkan puasa.

ALlahu a'lam bish-shawab.
Wassalaamu alaykum wa RahmatuLlahi wa Barakatuh.

-Abu Aufa-

Maraji:
- Ustadz Hafiz Firdaus Abdullah (Malaysia), buku Menelan Air Liur Tidak Membatalkan Puasa, bab Puasa Ramadhan: Antara Yang Ditinggalkan dan Ditokok Tambah.
- Syaikh Yusuf al-Qaradhawi, Fiqh al-Siyam (edisi terjemahan oleh Ma'ruf Abdul Jalil dan rekan-rekan dengan judul Fiqh Puasa; Era Intermedia, Solo 2001), halaman 118 dan 107-108.

Sabtu, 30 Juli 2011

Alquran-indonesia.com

List Semua Surah »

No. Lihat SurahDengarkanDengarkan TerjemahanJumlahTurun di
1.  Al-Fatihah7Makkiyah
2.  Al-Baqarah286Madaniyyah
3.  Ali Imran200Madaniyyah
4.  An-Nisaa176Madaniyyah
5.  Al-Maidah120Madaniyyah
6.  Al-An'am165Makkiyah
7.  Al-A'raf206Makkiyah
8.  Al-Anfaal75Madaniyyah
9.  At-Taubah129Madaniyyah
10.  Yunus109Makkiyah
11.  Huud123Makkiyah
12.  Yusuf111Makkiyah
13.  Ar-Ra'd43Madaniyyah
14.  Ibrahim52Makkiyah
15.  Al-Hijr99Makkiyah
16.  An-Nahl128Makkiyah
17.  Al-Israa'111Makkiyah
18.  Al-Kahfi110Makkiyah
19.  Maryam98Makkiyah
20.  Thaahaa135Makkiyah
21.  Al-Anbiyaa112Makkiyah
22.  Al-Hajj78Madaniyyah
23.  Al-Mu'minuun118Makkiyah
24.  An-Nuur64Madaniyyah
25.  Al-Furqaan77Makkiyah
26.  Asy-Syu'araa227Makkiyah
27.  An-Naml93Makkiyah
28.  Al-Qashash88Makkiyah
29.  Al-'Ankabuut69Makkiyah
30.  Ar-Ruum60Makkiyah
31.  Luqman34Makkiyah
32.  As-Sajdah30Makkiyah
33.  Al-Ahzab73Madaniyyah
34.  Saba'54Makkiyah
35.  Faathir45Makkiyah
36.  Yaa Siin83Makkiyah
37.  Ash-Shaaffat182Makkiyah
38.  Shaad88Makkiyah
39.  Az-Zumar75Makkiyah
40.  Al-Mu'min85Makkiyah
41.  Fushshilat54Makkiyah
42.  Asy-Syuura53Makkiyah
43.  Az-Zukhruf89Makkiyah
44.  Ad-Dukhaan59Makkiyah
45.  Al-Jaatsiyah37Makkiyah
46.  Al-Ahqaaf35Makkiyah
47.  Muhammad38Madaniyyah
48.  Al-Fat-h29Madaniyyah
49.  Al-Hujuraat18Madaniyyah
50.  Qaaf45Makkiyah
51.  Adz-Dzaariyat60Makkiyah
52.  Ath-Thuur49Makkiyah
53.  An-Najm62Makkiyah
54.  Al-Qamar55Makkiyah
55.  Ar-Rahmaan78Madaniyyah
56.  Al-Waaqi'ah96Makkiyah
57.  Al-Hadiid29Madaniyyah
58.  Al-Mujaadilah22Madaniyyah
59.  Al-Hasyr24Madaniyyah
60.  Al-Mumtahanah13Madaniyyah
61.  Ash-Shaff14Madaniyyah
62.  Al-Jumuah11Madaniyyah
63.  Al-Munaafiqun11Madaniyyah
64.  At-Taghaabun18Madaniyyah
65.  Ath-Thalaaq12Madaniyyah
66.  At-Tahriim12Madaniyyah
67.  Al-Mulk30Makkiyah
68.  Al-Qalam52Makkiyah
69.  Al-Haaqqah52Makkiyah
70.  Al-Ma'aarij44Makkiyah
71.  Nuh28Makkiyah
72.  Al-Jin28Makkiyah
73.  Al-Muzzammil20Makkiyah
74.  Al-Muddatstsir56Makkiyah
75.  Al-Qiyaamah40Makkiyah
76.  Al-Insaan31Madaniyyah
77.  Al-Mursalaat50Makkiyah
78.  An-Naba'40Makkiyah
79.  An-Naazi'aat46Makkiyah
80.  'Abasa42Makkiyah
81.  At-Takwiir29Makkiyah
82.  Al-Infithaar19Makkiyah
83.  Al-Muthaffif36Makkiyah
84.  Al-Insyiqaaq25Makkiyah
85.  Al-Buruuj22Makkiyah
86.  Ath-Thaariq17Makkiyah
87.  Al-A'laa19Makkiyah
88.  Al-Ghaasyiyah26Makkiyah
89.  Al-Fajr30Makkiyah
90.  Al-Balad20Makkiyah
91.  Asy-Syams15Makkiyah
92.  Al-Lail21Makkiyah
93.  Adh-Dhuhaa11Makkiyah
94.  Alam Nasyrah8Makkiyah
95.  At-Tiin8Makkiyah
96.  Al-'Alaq19Makkiyah
97.  Al-Qadr5Makkiyah
98.  Al-Bayyinah8Madaniyyah
99.  Az-Zalzalah8Madaniyyah
100.  Al-'Aadiyaat11Makkiyah
101.  Al-Qaari'ah11Makkiyah
102.  At-Takaatsur8Makkiyah
103.  Al-'Ashr3Makkiyah
104.  Al-Humazah9Makkiyah
105.  Al-Fiil5Makkiyah
106.  Quraisy4Makkiyah
107.  Al-Maa'uun7Makkiyah
108.  Al-Kautsar3Makkiyah
109.  Al-Kaafiruun6Makkiyah
110.  An-Nashr3Madaniyyah
111.  Al-Lahab5Makkiyah
112.  Al-Ikhlash4Makkiyah
113.  Al-Falaq5Makkiyah
114.  An-Naas6Makkiyah
Jumlah Surah:114 Jumlah Ayat:6236